Perayaan Hari Nyepi Tahun 2018

Saat ini sedang ramai di perbincangkan oleh para netizen di Pulau Bali tentang pelaksanaan Hari Nyepi yang datangnya bersamaan dengan Hari Saraswati.

Apa makna dari kedua hari tersebut, sidang pembaca bisa browsing di internet.
Untuk pelaksaan Nyepi tahun 2018 ini ada hal menarik yang menjadi perdebatan banyak netizen terutama di Bali. Mulai dari akun dengan nama biasa, sampai akun dengan nama jero mangku, bahkan ada akun dengan nama Empu ikut meramaikan perbincangan mengenai pelaksaan Nyepi tahun 2018 ini.

Betapa tidak, hasil kesepakatan beberapa pihak yang tertuang dalam kesepakatan bersama ini memuat hal yang menjadi perbincangan dan perdebatan. Salah satu yang banyak menjadi sorotan adalah pada point ke 4 (empat) yaitu perihal himbauan pemutusan sambungan internet saat hari Nyepi tahun 2018 ini.

Berita ini juga sudah di sebarkan oleh beberapa media online lokal dan nasional, namun sebagaimana banyak keputusan lain perihal Pro dan Kontra akan selalu ada. Jangankan perihal besar, perihal sepele saja menimbulkan pro dan kontra.

Sudah rahasia umum pelaksanaan Nyepi dari tahun ke tahun sangat menyimpang dari konsep nya yang mana umat di harapkan melaksanakan Catur Brata Penyepian, namun apa yang terjadi? berapa orang yang pergi keluar rumah, menyalakan Api , dan bahkan berjudi masih selalu ditemui dari tahun ke tahun.

"gajah di pelupuk mata tak tampak"

Sebagaimana sifat kebanyakan orang yang begitu mudahnya mencari kesalahan orang lain, pada pelaksanaan Nyepi pun demikian juga. Warga melalui pecalang dan dibantu oleh banyak sekali "pecalang dadakan" ikut membantu "mengamankan" lingkungan dari orang-orang yang keluar rumah dengan cara berkeliling Banjar masing-masing atau dengan cara keluar rumah juga. Kemudian melarang warga menghidupkan lampu rumah dengan cara berkeliling kampung sembari menghidupkan lampu senter nya, lalu melarang warga non Hindu Bali ribut-ribut terlalu keras dengan cara menggertak dengan suara keras agar didengar. Bahkan tidak sedikit warga Bali sendiri yang seharusnya menjalankan dan melestarikan warisan adiluhung ini justru mabuk-mabukan dan judi namun di saat bersamaan menentang dengan keras bila ada warga pendatang atau yang tidak merayakan melakukan hal yang seperti mereka lakukan (mabuk, judi dan keluar rumah). 


Yah, dimana bumi dipijak disana langit dijunjung, begitu kata salah satu pepatah. Artinya para pendatang seharusnya ikut bagaimana kebiasaan warga setempat dan aturan yang diterapkan di suatu daerah itu.
Nyepi di Bali tidak bisa bila tidak dikaitkan dengan suatu agama tertentu dalam hal ini agama hindu budha Bali atau kepercayaan warisan para tetua Bali. Dan bila ranahnya agama, tentu menurut Undang-undang adalah kebebasan setiap warga negara untuk menjalankannya atau tidak.


Jadi bila ada yang setuju dengan keputusan ini, itu hak setiap warga negara dan demikian juga dengan yang tidak setuju itu juga merupakan hak mereka.
bagaimana dengan Anda?